Dahulu kala,di Negeri Sakura,hiduplah sepasang suami-istri
yang sederhana bernama Shin dan Yuki. Setiap pagi,Shin yang bekerja sebagai
pemotong kayu bakar pergi ke hutan untuk mengumpulkan batang pohon cemara.
Suatu hari,ditengah musim panas,seperti biasa Shin pergi ke
hutan bersama temannya. Karena cuaca yang terik,temannya mengajak Shin
beristirahat sejenak dari pekerjaan mereka yang melelahkan. Shin setuju akan
pendapat temannya. Mereka duduk bersandar di sebuah pohon berdaun rindang. Tak
lama,embusan angin sepoi-sepoi membuat mereka mengantuk dan tertidur pulas.
Teman Shin mulai bermimpi. Di dalam mimpinya,ia mendengar
dengungan keras yang ternyata merupakan bunyi sekumpulan lebah yang terbang
keluar dari lubang hidungnya!
Masih terkejut,teman Shin mengikuti lebah-lebah itu. Mereka
membawanya kesebuah rumah besar dan indah. Di kebunnya terdapat tanaman mawar
yang wangi. Lebah-lebah tersebut terbang memutari tanaman itu,lantas masuk
kedalam lubang di bawah tanaman itu. Teman Shin hampir saja masuk kedalam
lubang,namun ia terbangun
Ia mengguncang-guncangkan bahu Shin.” Hei,aku baru saja
bermimpi” katanya,lantas mengisahkan mimpinya kepada Shin
Setelah mendengarkan cerita temannya,Shin berseru “lebah
adalah membawa keberuntungan. Kita harus mengikuti lebah-lebah itu!”
“ jangan konyol”sahut temannya. “itu cuma mimpi”
Shin bersikeras, “ jika kau tidak menginginkan mimpimu,aku
akan membelinya!”
“ada-ada saja kamu Shin” kata temannya. Mana mungkin mimpi
bisa dibeli? Tapi akhirnya,karena kegigihan Shin ,temannya bersedia
memberikan mimpinya kepada Shin dengan
sejumlah bayaran.
Setibanya dirumah,Shin langsung bercerita kepada
istrinya,Yuki,mengenai mimpi temannnya. Yuki mendukung Shin untuk mengikuti
petunjuk mimpi tersebut.
Esok harinya,saat subuh menjelang,Shin berangkat. Ia sudah
berjalan cukup lama ketika bertemu sekelompok pengembara. Aha,pikir Shin,mereka
pasti pernah melihat sebuah rumah megah dengan tanaman mawar dikebunnya. Dengan
bergegas,Shin berlari menghampiri para pemuda itu. Namun,mereka malah
mengeluarkan pisau. Shin terkejut
“ berikan uangmu pada kami!”tuntut mereka. Ternyata,mereka
bukanlah pengembara melainkan perampok
“aku tidak punya uang. Aku meninggalkan uangku di rumah,di
sana” kata Shin sambil menunjuk ke arah Timur. Padahal rumah Shin sebenarnya
terletak disebelah Barat. Ketika para perampok itu menoleh kearah Timur,secepat
kilat Shin meloloskan diri dan berlari sekencang-kencangnya.
Tak lama,Shin berhasil meninggalkan para perampok. Namun,kemalangan
berikutnya menyerang dalam rupa hujan lebat. Shin berlari mendaki bukit. Ketika
tiba dipuncak ,petir menyambar –nyambar.
“aku harus mecari tempat perlindungan”gumamnya. Ia lantas
menemukan sebuah goa dan masuk kedalamnya.
Di dalam goa,aman dari hujan maupun para perampo,Shin
mengembuskan nafas lega.” Aku akan beristirahat sejenak disini”, katanya,lalu
membaringkan tubuhnya diatas permukaan tanah yang lembut dan hangat
Shin tidak menyadari bahwa yang ia tiduri adalah punggung
seekor beruang
Ketika si beruang mendengar dengkuran Shin dipunggungnya ,ia
terbangun. Beruang itu marah mengetahui ada manusia yang telah masuk ke
sarangnya. Ia meraung dan menegakkan tubuh untuk menjatuhkan Shin,tapi pemotong
kayu itu malah berpegangan erat pada punggung beruang.
Sambil menandak dan
meraung,beruang tersebut berlari keluar goa,dan terus berlari sampai mereka
tiba ditebing yang curam. Disitu,si beruang berhenti mendadak,membuat Shin
kehilangan pegangan dan terlontar dari punggung hewan tersebut. Kemudian,Shin
jatuh ke lembah bawah.
Kemalangan Shin belum berakhir. Saat sedang melayang
jatuh,seekor burung elang melihatnya. Elang itu lantas menukik tajam dan
mencengkram Shin dengan cakar-cakarnya. Ia akan menjadikan Shin menjadi
santapan
Namun,begitu mencium bau tak sedap dari si pemotong kayu
apalagi tubuhnya yang kotor,elang itu kehilangan minat dan melepaskan
cengkramannya. Shin jatuh berguling ke kaki bukit. Ia terus berguling dan
bergulling,sampai akhirnya ia tiba di sebuah gerbang yang besar.
Shin berdiri dan membersihkan pakaiannya. Meski hari sudah
gelap,Shin bisa melihat bahwa ia berdiri di depan rumah megah milik saudagar
kaya yang ada di dalam mimpi temannya.
Kebetulan,sang saudagar sedang berada dikebun. Ia terkejut
melihat Shin di depan rumahnya. Apalagi,penampilan Shin saat itu kacau balau. “
siapa engkau?” tanya saudagar kaya.
Dengan polos,Shin bercerita mengenai mimpi temannya dan
saudagar kaya itu mendengarkan dengan penuh minat. Ia lantas mengajak Shin
masuk ke rumahnya yang besar
“masuklah,bersihkan dirimu “,kata saudagar itu. “
istirahatlah di salah satu kamarku. Engkau pasti kelelahan”.
Shin merasa bersyukur. Setelah mandi air panas dan makan
sampai kenyang,ia tertidur nyenyak dirumah sang saudagar kaya.
Sementara Shin tertidur ,sang saudagar ingin mengambil harta
yang diceritakan oleh Shin. Ia memanggil para pelayannya dan menyuruh mereka
menggali tanah di bawah tanaman mawar dikebun.
Sementara itu,dirumah sederhana milik Shin,Yuki,istrinya
juga sedang tertidur dan dihantui mimpi. Dalam mimpinya ,Yuki mendengar
dengungan lebah yang keluar dari lubang hidungnya! Yuki kemudian mengikuti
lebah-lebah itu menuju kain alas. Ketika Yuki mengangkat kain alas itu,ia melihat
sebuah lubang dibawahnya. Lebah-lebah tersebut masuk kesana. Saat itu,Yuki
terbangun.
“ah itu hanya mimpi”desahnya. Tapi teringat akan keyakinan
Shin pada mimpi dan memutuskan untuk mengecek mimpinya.
Yuki bangun dan berjalan menuju kain alas,kemudian
mengangkat kain itu. Papan dibaliknya tampak longgar . Yuki mencoba
mencongkelnya,dan ternyata dengan mudah papan itu dicabut,dan Yuki menemukan
sebuah lubang dibaliknya. Ia masuk kedalam lubang itu.
Dirumah saudagar kaya,Shin terbangun. Sang saudagar berdiri
di ujung tempat tidur Shin ,menyodorkan sekop dan menyuruhnya untuk menggali tanah
dibawah tanaman mawar
Shin berlari keluar membawa sekop dan langsung menggali
tanah dibawah tanaman mawar. Disana,ia menemukan sebuah kendi dari tanah liat
“bukalah” kata si saudagar. Shin melakukannya. Namun,alih-alih
harta karun,ia malah menemukan sekelompok lebah yang berdengung keras. Shin menjatuhkan
kendi itu dan berlari secepat mungkin keluar dari sana. Ia mendengar si
saudagar berteriak dibelakangnya , “jangan kau ganggu lagi rumahku dengan mimpi
edanmu!”
Shin terus berlari sampai tiba ditebing curam tempat ia
terjatuh. Tak disangka,beruang pemarah tadi masih disana dan melihatnya. Shin langsung
berlari dan menghindar. Namun,tak lama,ia bertemu dengan segerombolan perampok
yang tadi meminta uangnya.
Kelelahan dan kecewa,Shin sampai dirumah. Tapi,sebelum ia
sempat bercerita,istrinya menghambur kepelukannya dan merengkuhnya erat. Yuki lalu
mengajak Shin ke kain alas dirumah mereka. Di sana,terdapat sebuah kendi besar
dari tanah liat ,yang isinya adalah setumpuk emas!
“engkau benar ,suamiku” seru Yuki bahagia. “lebah adalah
pembawa keberuntungan!”
Shin tersenyum lega. Tidak sia-sia usahanya mengikuti mimpi