Sabtu, 30 Mei 2015

Impian menjadi Atlit Tennis Meja

“Yahhh pecundang masa bermain tennis meja aja tidak bisa, dasar anak miskin bisanya mungutin sampah”seorang pemuda kaya menghina kepada pemuda yang miskin akan kekalahan yang membuat dirinya merasa direndahkan. Dengan merasa kesal,ia pergi meninggalkan tempat ia bertarung sambil membawa rasa kesalnya. Dia berkata dalam hatinya “liat saja nanti aku akan mengalahkanmu di Turnamen” berusaha untuk mengalahkan sang pemuda sombong itu

Pemuda itu berasal dari keluarga yang miskin dia sangat kesal dengan keluarga yang berpenghasilan lebih,seakan dia merasa direndahkannya. Dia ingin merubah nasib orang tuanya,yang berpenghasilan dibawah 10 ribu tiap harinya bahkan untuk makan saja dia harus meminjam duit ketetangganya. Hingga suatu ketika satu persatu warga datang kerumahnya untuk menagih utangnya yang semakin banyak. Ia tidak betah akan kehidupannya ini dia ingin merubah semuanya hingga orang tuanya hidup yang layak

Pemuda itu mempunyai impian menjadi atlit tennis meja yang professional,yang ingin mengharumkan nama Indonesia serta keluarganya untuk bangkit dari kemiskinannya.

“liff sini bantuin bapak mulung jangan melamun saja ntar kesambet loh”

“eh iya pak maaf “ ia tidak menyadarinya dari tadi dipanggil oleh bapaknya. Ya ia sering dipanggil Alif pemuda yang ingin menjadi atlit professional kini harus memulung untuk menghidupi keluarganya

“kamu kenapa melamun nak?”

“Ini pak aku pengen sekali bisa jadi seorang atlet yang bisa mengharumkan nama Indonesia”

“Impianmu bagus juga nak,tapi bapak tidak punya uang untuk mengikuti kamu sekolah olahraga”

“oh iya tidak apa-apa pak aku akan berusaha sendiri” dengan semangat diangkatnya karung sambil mencari barang-barang yang bisa dijualnya.

 Setelah selesai memulung,dia mencari sebuah guru yang bisa mengajarinya bermain tennis meja. Banyak sekali yang bisa bermain tenis meja tapi tidak ada satupun yang mau mengajarinya bermain, dan bayarannya pun mahal. Rasanya harapannya ingin usai begitu saja,dia sudah berjanji dia akan mengalahkan pemuda sombong itu di Turnamen yang akan diadakan sekitar 1 tahun lagi.

Dia merasa kecapaian beban yang diangkatnya setiap hari menghancurkan pundaknya ditambah dengan panasnya terik matahari yang siap membakar dirinya. Ntah kenapa ia tertuju kesebuah ruangan yang dimananya terdapat sebuah meja ya tentu saja itu meja yang dilakukan untuk bermain tenis meja. Kemudian ia memasuki ruangan itu sambil memegang bet alat untuk memukul bola pingpong tiba-tiba ia meneteskan air matanya teringat dia pernah dihina karena tidak bermain.

“kreekk” sebuah pintu tiba-tiba terbuka secara perlahan

“ampun pak ampun aku bukan maling aku hanya ingin melihatnya saja dari dekat”

“kamu siapa?siapa yang ingin memukulmu ?aku perhatikan dari tadi kayanya kamu pengen sekali bermain tenis meja ya?

“aku Alif mas,maaf ya mas aku masuk tanpa izin. Aku ingin sekali bisa bermain tenis meja”

“Oh iya tidak masalah,ini emang tempat umum kok,kamu mau aku ajarin?jangan panggil mas lah terlalu tua banget panggil kakak adi aja”

“ serius kak mau ngajarin aku?tapi aku tidak mempunyai uang buat bayarannya”

“Tenang lif aku ajarinnya ikhlas kok,oh ya ntar kalo udah terkenal jangan lupakan kakak ya “

“Hehe iya kak makasih yaa kakak yang ter the best deh” dia tersenyum bahagia karena ia sekarang
mendapatkan guru yang mau mengajarinya bermain tennis

setelah beberapa bulan terakhir dia selalu hadir dan kemampuannya bermain tenis semakin jago “sekarang aku siap mengalahkan orang sombong yang telah meremehkanku”  dalam hatinya ia bertekad keras hingga akhirnya….

“plaakk” lemparan bola pingpong dari kak adi mengenai wajahnya

“aduhh sakit tau kak”

“Kamu kenapa ga konsen tadi?lalu kenapa kamu bengong aja ,lagi ada masalah?”

“Ya udah ayo kak main lagi aku tidak apa-apa kok tadi cuma terlalu semangat aja pengen jadi atlit yang professional hehe”

“Haha kalo mau jadi atlet kamu harus konsen dong jangan terlalu banyak bermimpi yang penting usaha dulu “ kak Adi memberikan kata kata motivasi kepada murid pertamannya

“Oh ya lif besok ada perlombaan nih antar kabupaten kamu ikutan yaa?” hal yang ditunggu-tunggu alif akhirnya datang juga

“serius kak?wah aku mau banget itu kan cita-cita aku dari dulu” Alif sangat gembira sekali mendengar tawaran dari kak adi

“iya serius lah,udah jangan terlalu seneng dulu mending kamu berlatih dulu ama kakak”

Keesokan harinya

Dengan semangatnya Alif bangun lebih pagi dari biasanya karena hari ini adalah hari yang sangat istimewa baginya bagaimana tidak,ia belum pernah mengikuti lomba sama sekali.

Dia tergesa-gesa menuju rumah kak adi yang lumayan jauh dari rumahnya,” aku tidak mau terlambat untuk mengikuti lomba ini aku harus menang”. Terlalu bersemangat iya tersandung batu ,bahkan dia tak menghiraukannya ia bangkit kembali dan menuju kerumah kak Adi. Padahal ini baru lomba antar kabupaten dia sangat bersemangat sekali

Perjalanan cukup jauh dari rumahnya akhirnya dia sampai didepan rumah kak adi yang masih tertutup rapat
“assalammualaikum ka adii,assalaamualaikum” tidak ada jawaban darinya “apa aku telat datang atau aku terlalu pagi?”dia terheran merasa kebingungan

Setelah 10 menit berlalu akhirnya ada yang membukakan pintu yang tak lain ialah kak Adi
“waalaikum salam,hoaaamm kamu niat sekali datang subuh-subuh begini  acaranya kan mulai jam 9”

“kakak masih tidur?aduh maaf ya kak aku terlalu bersemangat sekali sampai membangunkan kakak pagi-pagi begini”

“Ya sudah tidak apa apa lif,loh kaki kamu kenapa bisa berdarah gitu?” dia sangat terheran melihat luka yang ada dikakinya

“ini tadi jatuh dijalan tapi tak apalah nanti juga sembuh”

“Masuk dulu aja sini ntar kaka obatin lukanya”

Kak adi mengambil kotak p3k dari lemarinya lalu membersihkan lukanya

Setelah beberapa jam mengobrol ga disangka jam sebentar lagi menunjukkan pukul 9. Banyak sekali piala kak adi hasil prestasinya salah satunya dia pernah juara pertama tennis meja se DKI Jakarta.

Perjalanan lumayan jauh sekali,mereka menaiki motor untuk menuju lokasi perlombaan. Alif sangat kagum melihat gedung-gedung tinggi menjulang kelangit dia tidak bisa membayangkan jika ia menjadi bos besar disalah satu gedung tinggi tersebut. “apa aku bisa memilikinya satu gedung saja buat tempat tinggal orang tuaku,itu hal yang mustahil buat makan sehari-hari saja susah sekali”

“Udah selesai belum melihat-lihatnya?ini udah sampai dilokasi,sampai kapan kamu mau duduk terus dimotor kakak?”

“Eh iya maaf kak tadi aku tadi sempat menghayal jadi bos digedung-gedung tinggi itu kak”

“Haha mending kamu belajar dulu yang bener”

Mereka memasuki ruangan yang banyak sekali para atlit muda berbakat tapi ia tetap semangat melawan musuh-musuhnya nanti. Dia sudah tidak sabar menanti gilirannya untuk bermain,tapi ia merasa kesal karena namanya tidak dipanggil-panggil hingga Alif ketiduran ditempat. “aliff,bangun ini giliran kamu” suara speaker yang mengagetkannya hingga ia terbangun ,ternyata itu suara kak adi yang sengaja mengagetkannya
“Plakplokplakplok” dengan gigihnya ia berusaha untuk mencetak angka,berbagai taktik untuk melawan musuhnya selalu saja gagal musuhnya sulit untuk dikalahkan

Pada ronde ke 2 menit terakhir Alif harus berusaha mengalahkan lawannya dan harus mencetak skor. Detik-detik terakhir dengan keringat bercucuran dia berhasil mengalahkan musuhnya. Tak gampang mengalahkannnya ,dia selalu mendapatkan point tapi pada detik terakhir Alif berhasil mendapatkan skor

“Yeaaahhh aku berhasil “ wajah gembira terlihat dari Alif hingga ia lupa beban ekonominya

“Selamat yaa sekarang kamu menang ,kamu akan diberikan tiket untuk bertanding di Turnamen berikutnya” panitia lomba menyerahkan piala tanda kemenangannya

Mendengar kata Turnamen dia semakin bersemangat sekali untuk mengikutinya sebuah kompetesi yang ia inginkan sejak dulu.” Horeeee” diangkatnya piala setinggi mungkin

Lalu dia pergi meninggalkan tempat pertandingan sambil menggengam erat piala ditangannya
“ayo kak pulang ,aku hari ini sangat senang sekali bisa membawa pulang piala aku tidak sabar menunjukkan piala ini kepada orang tuaku” wajahnya sangat gembira sekali

“Cieee yang hari ini menang lomba,selamat yaaa”sambil menyalakan motornya dan pergi meninggalkan lokasi

Semenjak perlombaan kemarin Alif sering mengikuti lomba-lomba antar RT,RW,pernah juga ikut lomba antar Jakarta. Piala yang diperolehnya sudah melebihi piala kak Adi,kehidupan dikeluarga semakin lama mengalami kemajuan bahkan hutang orang tuanya kini sudah lunas semua. Sekarang dia dijuluki Master Tennis Meja oleh warga disekitarnya,walaupun dia sudah mahir dia tidak pernah sombong kepada orang yang telah mengajarinya dulu

Jam masih menujukkan pukul 5 pagi,alif sudah bangun untuk melakukan ibadah solat subuh disetiap harinya. Dia baru menyadarinya sekarang adalah hari dimana ia harus bertanding di Turnamen “oh iya ini kan hari dimana aku akan bertanding,apakah aku bisa mengalahkannya?kemarin saja pas perlombaan aku nyaris saja kalah,waduhh”. Dia sudah siap menghadapi lawannya dan menuju rumah kak Adi

“assalammualaikum kak” seperti biasa dia mengetok pintu rumah kak Adi tapi kali ini dia datang agak siangan

“waalaikum salam,tumben kamu datang siangan biasanya juga datangnya pagi gangguin kaka lagi mimpi hehe”

“Iya kalo pagi takut,keganggu kakak lagi makanya aku datang siangan,gimana kak udah siap?”

“Hah?siap untuk apa?” kak Adi terheran seakan amnesia menyerang secara mendadak

“Hari ini kan ada Turnamen masa kakak lupa,ini kan hari yang sangat aku dambakan dari dulu” Alif meyakinkan kak Adi yang dari tadi keheranan

“ohh haha iya kakak inget kok nih peralatannya sudah ada,taruh diatas motor awas patah ini bet terbaik kakak kalo pecah ntar kamu aku gantung dipohon toge”

“Iyaa kakak bawel siap,dari pada kakak digantungin ama pacar kaka hehe”
setelah bercanda ria akhirnya kami pun berangkat seperti biasa menggunakan motor yang dari tadi mengaum siap mengantarkan kita.

Setibanya disana Alif merasa tak percaya diri karena dia melihat atlit-atlit yang sangat professional apalagi wajahnya mengarah ke pemuda yang sombong yang pernah menghinanya dulu. Dia merasa takut “apa aku sanggup untuk mengalahkannya?”

“tenang kamu tinggal percaya diri aja dan susun strategi dan ingat yaa kamu harus fokus kelawan kamu“ Seakan kak Adi mengerti apa yang aku katakan dalam hati

Alif pun mengangguk tanda iya mengerti apa yang kak Adi katakan barusan

Perlombaan pun dimulai,penantang kali ini sangatlah banyak. Beberapa sesi telah ia lewatkan hingga ia memasuki semi final  “plakplokplakplok” tangannya sangatlah capek terus memukul bola hingga ia merasa keram ditangannya. Hingga disesi terakhir akhirnya Alif memasuki Final perlombaan dan dia yakin dia akan mendapatkan piala yang sangat besar itu. Sayangnya tangannya Alif sudah tidak mampu lagi mengalahkan lawannya di Final

“Ini dia kita sambut Alif pemain tennis yang telah melawan musuhnya sesi sebelumnya dan penantangnya kali ini adalah…. Aldiiiii” yaa itu nama pemuda sombong yang pernah menghinanya. Alif pun kaget harus melawan musuh yang dulu pernah menghinanya

“hei pecundang,siap-siap malu didepan umum aku akan mengalahkanmu nanti” ucap Aldi dengan lancang

“jangan sombong dulu ,liat saja nanti”

Suara terompet pun dimulai bertanda bahwa perlombaan final akan segera dimulai
“plak” Alif melakukan servis terbaiknya dan “plok” dibalas oleh Aldi. Ronde pertama tangannya mulai terasa keram dan akhirnya Aldi mencetak skor terbaiknya “yess” .

Untuk mengatasi keram Alif melakukan gerakan-gerakan kecil pada tangannya yang bisa menghilangkan keram. Penonton seakan memberikan semangat kepada Alif

Pertandingan dimulai kembali “plakplok” hingga menit terakhir skornya selalu sama dan seimbang “aku harus fokus aku yakin bisa mengalahkannya” dengan pukulan terbaiknya Alif melakukan servis dan…. “yeahhh aku menang” Alif mencetak skor lagi. Pertandingan telah usai dan dimenangkan oleh Alif

Suara gemuruh dari penonton mengisi kemenangan hari ini, lalu Aldi menghampirinya dan memberinya selamat

“selamat ya,aku akui aku kalah dalam pertandingan ini maaf waktu itu membuatmu merasa marah atas kelakuan jelek ku”

“Ah sudahlah itu udah aku lupakan kok,lagi pula impianku cuma 1 aku ingin sekali mengikuti Turnamen Tennis meja dari dulu”


Aldi meninggalkan Alif ditempat,lalu kak Adi menghampirinya dan memberi selamat. Begitu pula penonton menghampiri Alif dan mengangkatnya setinggi mungkin sambil menggenggam pialanya