“Yahhh pecundang masa bermain tennis meja aja tidak bisa,
dasar anak miskin bisanya mungutin sampah”seorang pemuda kaya menghina kepada
pemuda yang miskin akan kekalahan yang membuat dirinya merasa direndahkan.
Dengan merasa kesal,ia pergi meninggalkan tempat ia bertarung sambil membawa
rasa kesalnya. Dia berkata dalam hatinya “liat saja nanti aku akan
mengalahkanmu di Turnamen” berusaha untuk mengalahkan sang pemuda sombong itu
Pemuda itu berasal dari keluarga yang miskin dia sangat kesal
dengan keluarga yang berpenghasilan lebih,seakan dia merasa direndahkannya. Dia
ingin merubah nasib orang tuanya,yang berpenghasilan dibawah 10 ribu tiap
harinya bahkan untuk makan saja dia harus meminjam duit ketetangganya. Hingga
suatu ketika satu persatu warga datang kerumahnya untuk menagih utangnya yang
semakin banyak. Ia tidak betah akan kehidupannya ini dia ingin merubah semuanya
hingga orang tuanya hidup yang layak
Pemuda itu mempunyai impian menjadi atlit tennis meja yang
professional,yang ingin mengharumkan nama Indonesia serta keluarganya untuk
bangkit dari kemiskinannya.
“liff sini bantuin bapak mulung jangan melamun saja ntar
kesambet loh”
“eh iya pak maaf “ ia tidak menyadarinya dari tadi dipanggil
oleh bapaknya. Ya ia sering dipanggil Alif pemuda yang ingin menjadi atlit
professional kini harus memulung untuk menghidupi keluarganya
“kamu kenapa melamun nak?”
“Ini pak aku pengen sekali bisa jadi seorang atlet yang bisa
mengharumkan nama Indonesia”
“Impianmu bagus juga nak,tapi bapak tidak punya uang untuk
mengikuti kamu sekolah olahraga”
“oh iya tidak apa-apa pak aku akan berusaha sendiri” dengan
semangat diangkatnya karung sambil mencari barang-barang yang bisa dijualnya.
Setelah selesai
memulung,dia mencari sebuah guru yang bisa mengajarinya bermain tennis meja.
Banyak sekali yang bisa bermain tenis meja tapi tidak ada satupun yang mau
mengajarinya bermain, dan bayarannya pun mahal. Rasanya harapannya ingin usai
begitu saja,dia sudah berjanji dia akan mengalahkan pemuda sombong itu di Turnamen
yang akan diadakan sekitar 1 tahun lagi.
Dia merasa kecapaian beban yang diangkatnya setiap hari
menghancurkan pundaknya ditambah dengan panasnya terik matahari yang siap
membakar dirinya. Ntah kenapa ia tertuju kesebuah ruangan yang dimananya terdapat
sebuah meja ya tentu saja itu meja yang dilakukan untuk bermain tenis meja.
Kemudian ia memasuki ruangan itu sambil memegang bet alat untuk memukul bola
pingpong tiba-tiba ia meneteskan air matanya teringat dia pernah dihina karena
tidak bermain.
“kreekk” sebuah pintu tiba-tiba terbuka secara perlahan
“ampun pak ampun aku bukan maling aku hanya ingin melihatnya
saja dari dekat”
“kamu siapa?siapa yang ingin memukulmu ?aku perhatikan dari
tadi kayanya kamu pengen sekali bermain tenis meja ya?
“aku Alif mas,maaf ya mas aku masuk tanpa izin. Aku ingin
sekali bisa bermain tenis meja”
“Oh iya tidak masalah,ini emang tempat umum kok,kamu mau aku
ajarin?jangan panggil mas lah terlalu tua banget panggil kakak adi aja”
“ serius kak mau ngajarin aku?tapi aku tidak mempunyai uang
buat bayarannya”
“Tenang lif aku ajarinnya ikhlas kok,oh ya ntar kalo udah
terkenal jangan lupakan kakak ya “
“Hehe iya kak makasih yaa kakak yang ter the best deh” dia
tersenyum bahagia karena ia sekarang
mendapatkan guru yang mau mengajarinya bermain tennis
setelah beberapa bulan terakhir dia selalu hadir dan
kemampuannya bermain tenis semakin jago “sekarang aku siap mengalahkan orang
sombong yang telah meremehkanku” dalam
hatinya ia bertekad keras hingga akhirnya….
“plaakk” lemparan bola pingpong dari kak adi mengenai
wajahnya
“aduhh sakit tau kak”
“Kamu kenapa ga konsen tadi?lalu kenapa kamu bengong aja
,lagi ada masalah?”
“Ya udah ayo kak main lagi aku tidak apa-apa kok tadi cuma
terlalu semangat aja pengen jadi atlit yang professional hehe”
“Haha kalo mau jadi atlet kamu harus konsen dong jangan
terlalu banyak bermimpi yang penting usaha dulu “ kak Adi memberikan kata kata
motivasi kepada murid pertamannya
“Oh ya lif besok ada perlombaan nih antar kabupaten kamu
ikutan yaa?” hal yang ditunggu-tunggu alif akhirnya datang juga
“serius kak?wah aku mau banget itu kan cita-cita aku dari
dulu” Alif sangat gembira sekali mendengar tawaran dari kak adi
“iya serius lah,udah jangan terlalu seneng dulu mending kamu
berlatih dulu ama kakak”
Keesokan harinya
Dengan semangatnya Alif bangun lebih pagi dari biasanya
karena hari ini adalah hari yang sangat istimewa baginya bagaimana tidak,ia
belum pernah mengikuti lomba sama sekali.
Dia tergesa-gesa menuju rumah kak adi yang lumayan jauh dari
rumahnya,” aku tidak mau terlambat untuk mengikuti lomba ini aku harus menang”.
Terlalu bersemangat iya tersandung batu ,bahkan dia tak menghiraukannya ia
bangkit kembali dan menuju kerumah kak Adi. Padahal ini baru lomba antar
kabupaten dia sangat bersemangat sekali
Perjalanan cukup jauh dari rumahnya akhirnya dia sampai
didepan rumah kak adi yang masih tertutup rapat
“assalammualaikum ka adii,assalaamualaikum” tidak ada
jawaban darinya “apa aku telat datang atau aku terlalu pagi?”dia terheran
merasa kebingungan
Setelah 10 menit berlalu akhirnya ada yang membukakan pintu
yang tak lain ialah kak Adi
“waalaikum salam,hoaaamm kamu niat sekali datang subuh-subuh
begini acaranya kan mulai jam 9”
“kakak masih tidur?aduh maaf ya kak aku terlalu bersemangat
sekali sampai membangunkan kakak pagi-pagi begini”
“Ya sudah tidak apa apa lif,loh kaki kamu kenapa bisa
berdarah gitu?” dia sangat terheran melihat luka yang ada dikakinya
“ini tadi jatuh dijalan tapi tak apalah nanti juga sembuh”
“Masuk dulu aja sini ntar kaka obatin lukanya”
Kak adi mengambil kotak p3k dari lemarinya lalu membersihkan
lukanya
Setelah beberapa jam mengobrol ga disangka jam sebentar lagi
menunjukkan pukul 9. Banyak sekali piala kak adi hasil prestasinya salah
satunya dia pernah juara pertama tennis meja se DKI Jakarta.
Perjalanan lumayan jauh sekali,mereka menaiki motor untuk
menuju lokasi perlombaan. Alif sangat kagum melihat gedung-gedung tinggi
menjulang kelangit dia tidak bisa membayangkan jika ia menjadi bos besar
disalah satu gedung tinggi tersebut. “apa aku bisa memilikinya satu gedung saja
buat tempat tinggal orang tuaku,itu hal yang mustahil buat makan sehari-hari
saja susah sekali”
“Udah selesai belum melihat-lihatnya?ini udah sampai
dilokasi,sampai kapan kamu mau duduk terus dimotor kakak?”
“Eh iya maaf kak tadi aku tadi sempat menghayal jadi bos
digedung-gedung tinggi itu kak”
“Haha mending kamu belajar dulu yang bener”
Mereka memasuki ruangan yang banyak sekali para atlit muda
berbakat tapi ia tetap semangat melawan musuh-musuhnya nanti. Dia sudah tidak
sabar menanti gilirannya untuk bermain,tapi ia merasa kesal karena namanya
tidak dipanggil-panggil hingga Alif ketiduran ditempat. “aliff,bangun ini
giliran kamu” suara speaker yang mengagetkannya hingga ia terbangun ,ternyata
itu suara kak adi yang sengaja mengagetkannya
“Plakplokplakplok” dengan gigihnya ia berusaha untuk
mencetak angka,berbagai taktik untuk melawan musuhnya selalu saja gagal
musuhnya sulit untuk dikalahkan
Pada ronde ke 2 menit terakhir Alif harus berusaha mengalahkan
lawannya dan harus mencetak skor. Detik-detik terakhir dengan keringat
bercucuran dia berhasil mengalahkan musuhnya. Tak gampang mengalahkannnya ,dia
selalu mendapatkan point tapi pada detik terakhir Alif berhasil mendapatkan
skor
“Yeaaahhh aku berhasil “ wajah gembira terlihat dari Alif
hingga ia lupa beban ekonominya
“Selamat yaa sekarang kamu menang ,kamu akan diberikan tiket
untuk bertanding di Turnamen berikutnya” panitia lomba menyerahkan piala tanda kemenangannya
Mendengar kata Turnamen dia semakin bersemangat sekali untuk
mengikutinya sebuah kompetesi yang ia inginkan sejak dulu.” Horeeee”
diangkatnya piala setinggi mungkin
Lalu dia pergi meninggalkan tempat pertandingan sambil
menggengam erat piala ditangannya
“ayo kak pulang ,aku hari ini sangat senang sekali bisa
membawa pulang piala aku tidak sabar menunjukkan piala ini kepada orang tuaku”
wajahnya sangat gembira sekali
“Cieee yang hari ini menang lomba,selamat yaaa”sambil
menyalakan motornya dan pergi meninggalkan lokasi
Semenjak perlombaan kemarin Alif sering mengikuti
lomba-lomba antar RT,RW,pernah juga ikut lomba antar Jakarta. Piala yang
diperolehnya sudah melebihi piala kak Adi,kehidupan dikeluarga semakin lama
mengalami kemajuan bahkan hutang orang tuanya kini sudah lunas semua. Sekarang dia
dijuluki Master Tennis Meja oleh warga disekitarnya,walaupun dia sudah mahir
dia tidak pernah sombong kepada orang yang telah mengajarinya dulu
Jam masih menujukkan pukul 5 pagi,alif sudah bangun untuk
melakukan ibadah solat subuh disetiap harinya. Dia baru menyadarinya sekarang
adalah hari dimana ia harus bertanding di Turnamen “oh iya ini kan hari dimana
aku akan bertanding,apakah aku bisa mengalahkannya?kemarin saja pas perlombaan
aku nyaris saja kalah,waduhh”. Dia sudah siap menghadapi lawannya dan menuju rumah kak Adi
“assalammualaikum kak” seperti biasa dia mengetok pintu
rumah kak Adi tapi kali ini dia datang agak siangan
“waalaikum salam,tumben kamu datang siangan biasanya juga
datangnya pagi gangguin kaka lagi mimpi hehe”
“Iya kalo pagi takut,keganggu kakak lagi makanya aku datang
siangan,gimana kak udah siap?”
“Hah?siap untuk apa?” kak Adi terheran seakan amnesia
menyerang secara mendadak
“Hari ini kan ada Turnamen masa kakak lupa,ini kan hari yang
sangat aku dambakan dari dulu” Alif meyakinkan kak Adi yang dari tadi keheranan
“ohh haha iya kakak inget kok nih peralatannya sudah ada,taruh
diatas motor awas patah ini bet terbaik kakak kalo pecah ntar kamu aku gantung
dipohon toge”
“Iyaa kakak bawel siap,dari pada kakak digantungin ama pacar
kaka hehe”
setelah bercanda ria akhirnya kami pun berangkat seperti
biasa menggunakan motor yang dari tadi mengaum siap mengantarkan kita.
Setibanya disana Alif merasa tak percaya diri karena dia
melihat atlit-atlit yang sangat professional apalagi wajahnya mengarah ke
pemuda yang sombong yang pernah menghinanya dulu. Dia merasa takut “apa aku
sanggup untuk mengalahkannya?”
“tenang kamu tinggal percaya diri aja dan susun strategi dan
ingat yaa kamu harus fokus kelawan kamu“ Seakan kak Adi mengerti apa yang aku katakan
dalam hati
Alif pun mengangguk tanda iya mengerti apa yang kak Adi katakan
barusan
Perlombaan pun dimulai,penantang kali ini sangatlah banyak. Beberapa
sesi telah ia lewatkan hingga ia memasuki semi final “plakplokplakplok” tangannya sangatlah capek
terus memukul bola hingga ia merasa keram ditangannya. Hingga disesi terakhir
akhirnya Alif memasuki Final perlombaan dan dia yakin dia akan mendapatkan
piala yang sangat besar itu. Sayangnya tangannya Alif sudah tidak mampu lagi
mengalahkan lawannya di Final
“Ini dia kita sambut Alif pemain tennis yang telah melawan
musuhnya sesi sebelumnya dan penantangnya kali ini adalah…. Aldiiiii” yaa itu
nama pemuda sombong yang pernah menghinanya. Alif pun kaget harus melawan musuh
yang dulu pernah menghinanya
“hei pecundang,siap-siap malu didepan umum aku akan
mengalahkanmu nanti” ucap Aldi dengan lancang
“jangan sombong dulu ,liat saja nanti”
Suara terompet pun dimulai bertanda bahwa perlombaan final
akan segera dimulai
“plak” Alif melakukan servis terbaiknya dan “plok” dibalas
oleh Aldi. Ronde pertama tangannya mulai terasa keram dan akhirnya Aldi
mencetak skor terbaiknya “yess” .
Untuk mengatasi keram Alif melakukan gerakan-gerakan kecil
pada tangannya yang bisa menghilangkan keram. Penonton seakan memberikan semangat
kepada Alif
Pertandingan dimulai kembali “plakplok” hingga menit
terakhir skornya selalu sama dan seimbang “aku harus fokus aku yakin bisa
mengalahkannya” dengan pukulan terbaiknya Alif melakukan servis dan…. “yeahhh
aku menang” Alif mencetak skor lagi. Pertandingan telah usai dan dimenangkan
oleh Alif
Suara gemuruh dari penonton mengisi kemenangan hari ini, lalu
Aldi menghampirinya dan memberinya selamat
“selamat ya,aku akui aku kalah dalam pertandingan ini maaf
waktu itu membuatmu merasa marah atas kelakuan jelek ku”
“Ah sudahlah itu udah aku lupakan kok,lagi pula impianku cuma
1 aku ingin sekali mengikuti Turnamen Tennis meja dari dulu”
Aldi meninggalkan Alif ditempat,lalu kak Adi menghampirinya
dan memberi selamat. Begitu pula penonton menghampiri Alif dan mengangkatnya
setinggi mungkin sambil menggenggam pialanya


